Camping di Kokopan – Welirang Serasa Lahan Milik Pribadi

Sebagai warga Surabaya yang setiap hari merasakan penatnya rutinitas perkotaan, merindukan akhir pekan yang damai di alam, seraya menyaksikan fajar yang perlahan merekah dengan sinarnya di timur adalah sebuah kemewahan.

Okay, pertama aku memang bukan warga Surabaya, tapi aku kurang lebih merasakan rutinitas yang sama, penat yang sama, dan udara perkotaan yang sama. Jadi selebihnya pernyataan di atas benar adanya. Kabur ke tempat yang tenang dengan sentuhan alam yang masih sangat asri adalah sebuah keniscayaan.

Bagi para pendaki seperti kami, pergi ke gunung di akhir pekan harus pintar-pintar membagi waktu. Pilihan terdekat adalah Perjalanan ke Gunung Penanggungan, yang sebenarnya memiliki rute yang singkat dan bisa ditempuh selama dua hari satu malam perjalanan. Namun, kalian setuju tidak denganku kalau Penanggungan di akhir pekan tak ubahnya seperti pasar. Jarang sekali mendapatkan camping ground yang sepi saat akhir pekan di sini.

Akhir pekan yang lalu aku pergi ke jalur pendakian Gunung Welirang. Tidak untuk ke puncaknya, namun perjalananku berhenti di Kokopan atau pos 1 menuju puncak Gunung Welirang. Dan di sini, aku mendapatkan malam terindah penuh bintang serta matahari terbit yang sangat cantik. Psssst, dan Kokopan sepi pi pi pi pi …. dari pendaki lainnya.

Baca selebihnya »
Iklan

Penanggungan dan Keril Terberat Sepanjang Tahun

Aku menatap dua tas keril di depanku dengan gamang. Satu tas keril milik Embun serasa begitu kecil disandingkan dengan milikku. Tas tujuh puluh liter itu telah penuh dengan satu tenda kapasitas dua orang, enam liter air mineral, sleeping bag, logistik, sedikit baju, dan perlengkapan mendaki lainnya. Di salah satu tempat duduk di warung yang berada di pos satu sekaligus pintu masuk Gunung Penanggungan ini, aku meneguhkan hatiku agar bisa yakin mengangkat tas Deuter Air Contact Variflex itu hingga puncak.

Di antara karir ((karir)) naik gunungku yang baru seumur jagung, ini adalah kali pertamaku menggunakan tas keril berukuran besar seperti ini. Aku meminjamnya dari Pak Bagus, salah satu rekan di kantor yang pengalaman naik gunungnya sudah banyak makan asam garam.

Kenapa harus pinjam? Karena selama ini keril yang kugunakan berukuran 50 liter, tidak pernah lebih. Sedangkan aku ingin sekali bisa menambah kapasistastasku, namun di saat yang bersamaan aku ragu apakah fisikku kuat membawa beban tambahan di atas punggungku. Jadilah sebelum benar-benar berganti tas, aku ingin tahu, sejauh mana fisikku bisa menanggung beban seberat itu.

“Siap?” Pertanyaan embun menyadarkanku kembali.

“Siaplah.” Jawabku enteng.

“Bawa sampai atas ya tasnya.” Perkataannya terdengar seperti bukan pertanyaan.

“Oke.”

“Kuat?”

Baca selebihnya »

Pagi yang Magis di Puncak Prau

Daisy di Puncak Prau masih tetap begitu cantik, mekar dengan sempurna di penghujung musim panas waktu itu. Tak peduli jika sepanjang hari itu Prau diselimuti kabut yang merambat dari bawah lembah dataran tinggi Dieng, naik ke puncaknya dan menyelubunginya sepanjang pagi itu. Serta tak peduli kalau kabut pagi itu menghalangi sinar mentari pagi paling cantik di tempat itu. Seolah tak peduli, bunga-bunga itu bermekaran dengan cantiknya dalam berbagai warna-warnanya yang indah.

Baca selebihnya »

Mendaki Gunung Prau Via Patak Banteng

“Kak, ke Prau di jadikan aja, ya.”

Sebuah pesan WA singkat dari Titha yang langsung membuat Saya melonjak kegirangan.

Memang,mendaki bisa secandu itu. Kurang dari dua bulan Saya dan Titha pulang dari Semeru, namun kami sudah tidak tahan untuk kembali mengangkat tas keril dan menjelajahi jalan berbatu di lereng pegunungan. Kali ini, untuk pendakian kedua, Saya memimpikan Gunung Prau.

Gunung Prau adalah sebuah puncak tertinggi di Dataran Tinggi Dieng. Satu-satunya tempat yang disebut memiliki pemandangan matahari terbit terindah se Asia Tenggara. Bahkan mengalahkan Puncak Sikunir, Dieng. Karena hanya di Puncak Prau kita bisa menyaksikan matahari terbit dengan cahaya keemasannya di antara dua gunung kembar Wonosobo, Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.

Terletak diketinggian 2.565 mdpl, banyak yang menganggap Gunung Prau adalah salah satu gunung di Jawa Tengah yang cocok untuk para pendaki pemula. Karena gunungnya yang tidak terlalu tinggi, serta jalur pendakian yang katanya relatif mudah dan singkat untuk di tempuh. Ada beberapa jalur pendakian yang bisa kita gunakan untuk mencapai puncak Gunung Prau. Diantaranya adalah melalui Wates, Dieng Kulon, Kalilembu, serta Patak Banteng. Jalur pendakian pendakian via Patak Banteng paling banyak dipilih oleh para pendaki, karena menurut mereka jalur ini lumayan pendek, hanya berkisar dua jam perjalanan untuk sampai di area camping Puncak Prau.

Lantas, benarkah jalur pendakian Gunung Prau via Patak Banteng semudah yang banyak digaungkan selama ini?

Baca selebihnya »

Matahari Yang Terbit dari Puncak B-29

Setuju nggak sih kalian kalau Gunung Bromo dilihat dari sudut pandang manapun selalu cantik?

Itulah kenapa sejak beberapa tahun terakhir ini banyak sekali view point baru yang bermunculan di sekitar area Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Mulai dari yang paling lawas, ada penanjakan 1, 2, dan 3. Lalu ada pula Bukit Cinta, dan Bukit Kingkong. Mungkin sebentar lagi akan bermunculan Bukit Kera, Gajah, Jerapah, Simpanse, eh salah ya?

Kalau jamannya aku kuliah dulu yang paling terkenal adalah Penanjakan 1 dan 2. Naik ke Penanjakan 2 atau sekarang yang lebih dikenal dengan Seruni Point ini, serasa naik gunung beneran. Tapi sekarang, berkat majunya pariwisata di sana, dengar-dengar katanya sudah ada tangga yang dibangun sampai menuju puncak.

Oke, pasti sudah tahu dong kalau Taman Nasional Bromo Tengger Semeru itu luas. Pake Banget. Meliputi empat kabupaten sekaligus yaitu Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Malang, Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Probolinggo. Jadi tentu saja melihat keindahan Taman Nasioanl ini bisa dilakukan dari mana saja.

Salah satunya adalah Puncak B-29 yang ada di Lumajang.Baca selebihnya »

Body Shamming = Bullying

36fb0b4801fdf35ca2eaa5a8f61df282eaf108b9aae046eac94307a09ed4e116

Menurut kalian pertanyaan macam, “Kamu kok gendutan sih, sekarang?” itu termasuk body shamming, nggak?

Okay, let’s break it down.

Body shamming adalah sebuah cara seseorang untuk mengomentari fisik orang lain secara negatif. Bisa dengan cara bercandaan, komentar ringan, basa-basi, atau bahkan bahan untuk memulai sebuah percakapan.

Logikanya begini, seseorang nggak mungkin bertanya “Kamu kok gendutan sih?” kalau dia tidak berfikir kamu gendut. So yes, they obiviously thinking that you are fat. Hanya saja ini kebetulan ditambah mungkin dengan sedikit ha ha hi hi, dan kata tanya agar kamu bisa menjawab dan melakukan pembelaan diri, sehingga pertanyaannya tidak terdengar terlalu men-judge.

Jadi kesimpulannya, ya. Pertanyaan macam itu menurutku termasuk dalam body shamming.

Baca selebihnya »

8 Hal Yang Harus Kamu Tahu Sebelum Ke Semeru

IMG20180714143353-01

Setuju nggak sih, kalau sejak film 5 Cm, dunia pendakian di Indonesia jadi lebih bersinar dibandingkan sebelumnya? Terutama pesona Gunung Semeru yang makin terkenal. Tidak kurang dari ribuan pendaki yang naik ke puncak abadi tempat bersemayamnya Para Dewa ini tiap tahunnya.

Memang pesona di film mampu menghipnotis setiap orang untuk datang ke tempat ini. Pemandangan yang sangat luar biasa, dengan lanskap alam Taman Nasional Bromo Tengger Semeru bisa dikatakan sempurna. Apalagi, saat Genta dan kawan-kawannya menikmati malam di Ranukumbolo beratapkan milky way yang sangat memukau.

Namun, bagi kalian penggemar film ini, atau yang sedang berangan-angan ingin ke Semeru untuk pertama kalinya, harus sedikit menurunkan ekspektasi. Karena ada beberapa hal yang harus dipatuhi selama kalian melakukan pendakian menuju puncak Semeru. Kata harus sepertinya mesti dicetak dengan huruf besar. HARUS DIPATUHI. Karena bila kalian tidak menaatinya bisa-bisa membahayakan diri kalian sendiri. Berikut ini adalah delapan hal yang perlu kalian tahu sebelum melakukan pendakian ke Gunung Semeru.

Baca selebihnya »

Bucket List : Sendratari Ramayana

Some say if we carry our childhood with us, we never become older. 

Pasti ada satu bagian masa kecil yang selalu kita bawa hingga kita dewasa. Entah itu cerita megah tentang kerajaan-kerjaan Disney dengan Putri dan Pengeran berkuda putihnya, atau memori sesederhada seperti berenang di sungai belakang rumah dan makan mangga hasil curian di tanah tetangga.

Untukku, jauh sebelum aku berkenalan dengan Cinderella dan Pangeran Tampannya. Mamaku sudah terlebih dahulu mengenalkanku pada cerita epik Ramayana dan Mahabarata. For 4 years old girl who longing for happily-ever-after storyI am very fond of Ramayana.  Cerita tentang romantisnya cerita Rama dan Shinta dalam mengaruhi kehidupan rumah tangganya dalam kesederhadaan dan pertapaan di hutan, hingga bagaimana perjuangan Rama merebut kembali Shinta saat ia diculik Rahwana, membuatku langsung jatuh hati dalam ceritanya. It is by far, my favorite love story of all time.  That’s why Ramayana Ballet has been in my bucket list for like eternity. Baca selebihnya »

Hilang Dari Peradaban

Somesay that I am a veryyyy distracted people. 

Mereka bilang multitasking adalah sesuatu hal paling mustahil yang bisa kukuasai. Kemampuan yang sebenarnya sangat dibutuhkan bagi pekerja kantoran zaman milenial seperti sekarang, namun sayangnya aku terlahir buruk melakukannya. Mereka juga bilang aku orang yang sangat berantakan, di tambah lagi tidak fokus. Dalam hal apapun.

Hmm, 100 % benar.

Baca selebihnya »

Nombeko dan Bom Atom Ke Tujuh

Tentang Gadis Penguras Jamban dari Soweto, Dua Holger yang salah satunya tidak diakui negara, serta seorang Gadis pemarah. 

IMG_2061

Sebagai seorang pencinta sejarah, harus kuakui kalau aku tidak terlalu suka dengan politik. Agak absurd memang, karena politik adalah bagian dari sejarah dunia. Tapi karena rumitnya, dan berbagai drama para pelaku dalam kancah panggung politik, I think I have enough. Hidupku sudah cukup susah, nggak perlu lagi deh ya ditambahin susahnya hidup orang lain karena politik.

Namun saat aku mengenal nama Jonas Jonasson, aku tidak pernah menyangka kalau politik  bisa selucu dan semenyenangkan itu bila diceritakan dalam sebuah cerita. Awal perkenalan kami adalah lewat buku pertama Jonas yang berjudul 100 years old man who jumped out the window and dissapeared, harus aku akui Jonas berhasil membuatku tertawa terpingkal-pingkal melalui perjalanan hidup si tokoh utama dengan latar belakang politik dunia.

Kini, Jonas Johansson kembali dengan buku keduanya yang berjudul A Girl Who Saved The King of Sweden. Fyi, Judul buku-bukunya Si Jonas selalu panjang begini, ya. Di buku kedua, Jonas kembali sukses membuatku tertawa terpingkal-pingkal lewat 549 lembar bukunya, sekaligus membuat emosiku campur aduk antara kesal, senang, sampai gregetan sampai rasanya aku ingin masuk ke dalam cerita dan mengatakan langsung pada tokoh yang ada dalam buku, “What the hell are you doing with your life?!”

Nombeko adalah seorang gadis penguras jaman di kota kumuh Afrika Selatan. Hidupnya di kotanya adalah sebuah jalan buntu karena setiap orang di tempat itu, entah akan berakhir mati di penjara atau mati karena overdosis obat-obatan terlarang. Hingga suatu hari seseorang mengajarkan Nombeko membaca, dan sejak saat itu Nombeko tidak pernah bisa berhenti membaca apapun, yang ternyata membuatnya sangat pintar dan ahli dalam matematika.

Kesempatan datang saat ia menemukan berlian dalam jumlah sangat besar, Nombeko meyakini kalau lewat berlian- berlian inilah satu-satunya kesempatannya untuk keluar dari kota kumuh tersebut. Ia bermaksud menuju Perpustakaan Nasional di kota Pretoria dimana ia bisa membaca buku sepuasnya. Namun nasib berkata lain, ia justru berakhir menjadi petugas kebersihan seorang Insinyur yang bekerja di sebuah pusat riset bom nuklir, dengan keamanan yang maksimum. Sekali lagi, Nombeko menemukan dirinya kembali terpenjara.

Hingga belasan tahun kemudian, Afrika Selatan berhasil menciptakan enam bom atom, dan satu bom atom yang pembuatannya tidak terencana karena salah satu ilmuwan di tempat itu salah perhitungan. Setelah Insinyur sekaligus merangkap sebagai atasannya meninggal, atas bantuan dua agen Mosad Israel, Nombeko kemudian berhasil melarikan diri dari pusat riset tersebut. Dua Agen Mosad yang membantunya menerbangkannya ke Swedia, satu-satunya negara dimana menurut mereka Nombeko akan dengan mudah mendapatkan suaka. Nombeko menyetujui kesepakatan mereka, dengan syarat bahwa ia harus dikirimkan daging antelop kering yang sangat disukainya.

Maka terbanglah Nombeko ke satu-satunya negara teraman di dunia, dengan berlian-berlian mentah miliknya yang telah disembunyikan dengan aman di dalam jaket jeleknya. Sesampainya di Swedia, Nombeko bertemu dengan Holger. Seorang pria yang memiliki kembaran sama dengan nama yang sama. Hanya saja, Holger yang ditemui Nombeko tidak pernah terdaftar dalam sistem kependudukan Swedia, kembaran satunya lah yang selama ini menjadi penduduk resmi negara itu, sementara kembar nomer dua secara teknis tidak pernah ada.

IMG_2065

Atas bantuan Holger Dua ia hendak mengambil daging antelop di kedutaan Israel, namun betapa terkejutnya mereka ketika mengetahui bahwa terjadi kesalahan dengan kirimannya. Alih-alih daging antelop kering lezat yang sangat didambakan Nombeko, yang diterimanya adalah bom atom ketujuh yang seharusnya dikirimkan ke Israel.

Jadilah Nombeko dan Holger Dua serta kembarannya harus hidup bertahan hingga bertahun-tahun kemudian selagi mencari cara untuk memberitahu perdana menteri Swedia dan Raja Swedia, bahwa di negara yang mereka klaim sebagai negara paling netral sekaligus paling bebas konflik di dunia itu terdapat sebuah bom atom berkekuatan tiga belas ribu megaton. Masalah kemudian muncul ketika ternyata Holger Nomor Satu sekaligus pacarnya yang sangat pemarah termasuk golongan yang sangat membenci monarki, dan mereka sangat membenci Raja Swedia beserta seluruh keluarganya.

Layaknya ciri khas Jonas, novel ini pun dilatar belakangi dengan berbagai kejadian penting di dunia, serta tokoh-tokoh paling berpengaruh di abad 20. Ia memadukannya dengan sebuah cerita yang sangat menarik hingga kita akan berhenti berkali-kali di tengah buku, alih-alih membaca kita pasti akan berakhir bertanya-tanya kepada Google pertanyaan konyol seperti, apakah Afrika Selatan benar-benar punya bom nuklir? Benarkah Israel pernah ingin mencuri bom nuklir dari Afrika Selatan? Atau bahkan pertanyaan seperti Apakah Raja Swedia pernah diculik? Yang mana sebenarnya tidak ada gunanya menyakan pertanyaan seperti itu, karena itu semua adalah fiksi yang dikarang oleh Jonas.

Gaya penceritaan buku ini yang sangat menarik, alih-alih membaca sebuah narasi, aku lebih merasa seperti seseorang sedang menceritakannya langsung padaku, terkadang malah aku serasa ada di tempat itu menyaksikan sendiri segala kekonyolan Nombeko dan dua kembar yang tidak ada habisnya. Jalan cerita yang dimulai dengan latar belakang politik apartheid Afrika Selatan hingga saat Nelson Mandela diangakat sebagai presiden kulit hitam pertama, lalu loncat ke Kerajaan Swedia, membuatku tak pernah ingin berhenti membalik setiap halamannya. Ceritanya yang sangat jenaka dan menarik seolah membuatku kita ingin mempercayainya. Walaupun jujur sih, aku lebih ingin percaya kalau Swedia pernah memiliki bom nuklir di suatu waktu. Pasti akan lebih menarik, dan membuat Presiden Amerika manapun kebakaran jenggot.

Dari total 10 bintang, aku memberikan nilai 8 bintang untuk novel kedua Jonas. Rasanya tidak akan melelahkan kalau aku menunggu novel ketiganya, dengan judulnya yang panjang, dan ceritanya yang jenaka. Well, Jonas got me in laugh in this disasterous world of events.

 

Meniti Jejak Masa Lalu di Little Netherland

“I love the feeling of being anonymous in a city I’ve never been before.”

Hmm, sebenarnya tidak secinta itu juga sih. Aku tetap merasa sedikit gugup dan takut waktu pertama kalinya aku menginjakkan kakiku di Semarang. Sebagai seorang solo traveller pasti akan selalu merasakan perasaan campur aduk antara senang sekaligus takut saat pertama kali menginjakkan kaki di tempat baru. Setidaknya itu yang aku rasakan hingga kemudian aku berjalan beberapa ratus meter jauhnya meninggalkan Stasiun Kereta Api Tawang.

Ketika akhirnya kakiku melenggang santai menyusuri jalanan Semarang, ternyata kota ini tak ubahnya seperti kota lain di Indonesia. Selama dompet berada di tempat yang aman, dan kalian berpenampilan sewajarnya traveller kere, aku rasa kalian akan baik-baik saja.

Sambil menikmati berbagai kuliner khas Kota Semarang, aku memutuskan berjalan kaki. Namun bagi kalian yang males jalan, ada berbagai pilihan transportasi yang bisa mengantar kalian ke tempat tujuan. Baik ojek konvensional maupun online, ataupun alat transportasi seperti angkot berbagai jurusan bertebaran di seantero kota. Awalnya aku pikir, tinggal tunggu waktu saat kakiku menyerah dan mulai memesan salah satu ojek online. Namun setelah berjalan beratus-ratus meter dan seporsi Lunpia Gang Lombok kemudian, aku sama sekali belum merasa lelah.

Teriknya matahari tak menghalangiku untuk kembali menjelajahi jalanan kota, menyusuri Jembatan Mberok sebagai salah satu ikon kota, hingga memasuki gang-gang kecil, dan voila! Tanpa kusadari aku sudah sampai di Little Netherland, atau yang biasa dikenal dengan kawasan Kota Tua Semarang.

IMG_2442
Gedung Marba yang menjadi salah satu ikon Kota Tua

 

Berjalan diantara bangunan-bangunan dengan pintu kayu yang telah lapuk dan jendela-jendela melengkung bergaya Eropa, aku serasa terlempar kembali di saat para Nyonya-Nyonya Belanda berjalan di jalanan ini, dimana para pria Belanda dan Pribumi juga berkantor di salah satu bangunan yang telah usang ini. Di masa jayanya, tempat ini adalah tempat bagi pusat perdagangan kala itu.

Tepat di depan Taman Sri Gunting yang biasanya menjadi tempat bagi orang-orang untuk bersantai, terdapat sebuah bangunan dua lantai berwarna merah yang menjadi saksi bisu akan perubahan kota dari sejak abad ke 19. Gedung tersebut lebih dikenal dengan nama Gedung Marba, dan salah satu titik paling terkenal di kawasan Kota Lama. Sebagian orang yang berkunjung biasanya akan melewatinya begitu saja, atau mungkin berfoto dengan gedung tersebut sebagai latar belakangnya, tanpa tahu sebenarnya gedung tua itu menyimpan banyak sekali cerita. Pemilik gedung tersebut adalah salah satu seorang yang berjasa dalam kemerdekaan Indonesia. Gedung Marba, adalah singkatan dari Martak Badjened, sebuah perusahaan milik seorang saudagar Arab kelahiran Yaman bernama Faradj Bin Said Awadh Martak. Ia adalah pemegang peranan penting dalam proklamasi kemerdekaan Indonesia karena menghibahkan rumah miliknya di Jalan Pegangsaan Timur 56 kepada Pemerintah Indonesia. Selain itu, saat Soekarno terbaring sakit malaria di ranjangnya pada malam sebelum proklamasi kemerdekaan, Faradj Bin Said Awadh Martak memberikan madu Arab pada Soekarno hingga ia mendapatkan kembali tenaganya di pagi hari berikutnya, dan memberikan kemerdekaan pada Indonesia tercinta. Gedung Marba di awalnya adalah sebuah perusahaan pelayaran di masa jayanya, namun sekarang sudah berubah fungsi menjadi pergudangan.

Saat aku duduk di salah satu bangku di Taman Srigunting sembali menikmati keindahan Gedung Marba, aku menyadari bahwa sebuah bangunan tak bernyawa, ada bukan hanya karena ia karena segala keindahannya. Namun ia juga mampu berbicara akan masa lampau, sekarang tentang bagaimana ia melewati tahun-tahun keemasannya, juga tentang masa depan dimana ia akan terus ada untuk jadi saksi akan berbagai cerita berikutnya.

IMG_2403
Pintu dan jendela kayu yang telah lapuk dimakan usia

Keindahan Little Netherland tak cukup sampai disitu. Berjalan ke arah Balai Kota, di antara jalanan yang dipenuhi lalu lalang kendaraan, beloklah ke  satu jalan masuk setelah Restoran Ikan Bakar Cianjur, tempat menuju pintu lain untuk menyingkap keindahan Kota Tua Semarang. Begitu menyusuri jalanan ini, kalian akan disambut dengan bangunan lapuk dengan pintu dan jendela kayu yang telah ditumbuhi tanaman merambat. Saat hari minggu tiba, tempat ini akan jadi tempat sabung ayam dimana deretan kandang ayam akan berjejer di sepanjang jalan.

Di baliknya, kalian akan menemui lebih banyak bangunan putih berlumut berlantai dua yang sudah tak berpenghuni. Jendela-jendela tinggi dan pintu masuk melengkung bergaya Eropa klasik masih banyak sekali ditemui di tempat ini. Jalanan yang sangat sepi, mampu meredam hiruk pikuknya kota di ujung jalan sana. Membayangkan berjalan di antara bangunan-bangunan ini di masa jayanya sangat mudah karena hampir tiap bangunan dirawat dengan sangat baik.

IMG_2415
Bangunan bertingkat bergaya Eropa klasik

Rasanya benar-benar seperti terlempar ke masa lalu, saat kota ini masih menjadi kota perdagangan. Aku bisa duduk berjam-jam di salah satu bangku yang disediakan di pinggir jalan, membiarkan pikiranku mengelana jauh ke abad 19, dan sepenuhnya melupakan orientasi waktuku. Lain kali, mungkin aku bisa membawa buku sketsa dan pensil gambar, dan membiarkan tanganku mengabadikan keeksotisan tempat ini dalam coretan pensilku.

Sebelum pulang, tak lengkap rasanya kalau belum menghadiahi diri sendiri dengan salah satu dari ribuan barang antik yang dijual di Pasar Klitikan, yang masih ada di kawasan Kota Lama. Di tempat ini dijual berbagai barang antik dari berbagai masa yang akan semakin melengkapi jejak masa lampau di Little Netherland. Atau kalau kalian bukan penggemar dari masa lalu, bisa juga kok sekedar foto-foto di tempat ini. Jangan lupa ijin ke pemiliknya dulu ya.

IMG_2357
Pasar Klitikan

 

IMG_2353
Keramik dan barang antik yang dijual di Pasar Klitikan.

Menyaksikan jejak masa lalu di tempat ini menjadi pengalaman yang berharga bagiku. Bila masa lalu bisa seindah itu saat kita menyaksikannya sekarang, harusnya kita bisa lebih percaya diri dalam meniti masa depan, dan menghadapinya tanpa rasa takut.

 

*Tulisan ini dibuat untuk mengikuti Lomba Blog Pesona Kabupaten Semarang.

Kuliner Sehari Di Semarang

Kalau bagiku Semarang itu masih jadi salah satu ‘One Night Stand City’ and ‘Weekend Perfect Getaway’, simply because it is sooo close from Surabaya. Kecuali kalau mau jelajah alam di Semarang, kota ini bisa banget lho dijelajahi dalam waktu sehari.

Sightseeing di kota ini nggak pernah bikin bosen. Selalu ada hal baru untuk dijelajahi, mulai dari makanan lokal hasil rekomendasi orang-orang Semarang, cafe dan resto unik, sampai bangunan kota tua yang sebenarnya sudah ada sejak jaman Belanda, namun kalian selalu luput dan baru tahu kalau tempat itu ada di kunjungan kalian entah keberapa kali.

Oke, bagi kalian yang hanya punya waktu sehari menjelajahi kota ini, buang dulu jauh-jauh pikiran tentang timbangan badan di rumah, pakai baju yang agak longgar, dan siap-siap perut karet untuk diisi dengan berbagai kuliner khas Semarang. Karena di bawah ini adalah kuliner khas kota ini yang bisa dinikmati dari pagi hingga malam hari.

Let’s have one night stand in this city! Weits, I mean with the food. 😉 

IMG_2244

1. Wingko Babad Cap Kereta Api 

Baca selebihnya »

Adding Number

Bagaimana perasaanmu saat membuka mata dan mendapatkan pesan pengingat tentang pekerjaan kantor yang belum selesai dan deretan deadline yang harus diselesaikan, ketika harusnya hari itu kamu bisa merasakan pertama kalinya apa yang orang-orang sebut sebagai quarter life crisis?

Buang jauh-jauh deh quarter life crisis kalau udah gini. Hal pertama yang kulakukan pagi ini adalah bangun secepat kilat, membaca pesan-pesan darurat pekerjaan itu secara berulang, memikirkan jawaban yang profesional dan bergegas kembali ke kantor. Di hari Sabtu pagi yang indah.

Well, I am not whining. Job is important after all, my job paid my food, education, billings, even my coffee, and most important my trips. It is part of responsibility, so when I woke up this morning my brain sort of building its own plans towards the day. It just some other ordinary day after all. 

except yes, I am adding one more number to my life. 

Ketika setengah hari dengan pekerjaan kantor yang melelahkan berakhir, saat akhirnya aku bisa menyesap Hazelnut Ice Blended dengan layar laptop yang terbuka di depanku, aku bisa bertanya satu hal ini:

Apa sih artinya jadi 25?

IMG_0614(1)
What is it mean to be 25?

Baca selebihnya »

Selamat Ulang Tahun Kota Surabaya

IMG_2707

There is something about parade that got me so into it. I love the ambience, the cheers, the laugh, and the vibrant look that every participant gave, it just so amazing. 

Mungkin itu juga yang membuatku ngotot menyaksikan Parade Bunga dan Budaya Surabaya dalam rangka menyambut hari jadi Kota Surabaya yang ke 724 tahun. Bejarak hanya sehari dari Semarang Night Carnival 2017, malam itu juga aku mengejar kereta api Gumarang yang akan membawaku kembali ke Surabaya. Walaupun capek, aku masih tetap semangat dong. Karena pagi harinya, Parade Bunga dan Budaya Surabaya akan digelar mulai pukul 09.00.

“Ngotot banget sih, Bunga. Nggak cukup ya, liat satu karnaval?” 

Off course not. It is a carnival, and it is in my beloved city. We can have enough of carnaval, right? 

Jadi, walau hanya tidur dua jam hari itu, aku masih powerfull banget, dong. Begitu waktu menunjukkan pukul enam pagi, aku langsung berangkat ke Tugu Pahlawan Surabaya tempat start parade akan dimulai. Berangkat awal sewaktu karnaval itu penting, apalagi kalau tujuannya mau berburu foto, harus dapat tempat yang paling strategis demi foto bagus.

Parade Bunga dan Budaya Surabaya tahun ini dibuka dan diberangkatkan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya (ESDM) Ignasius Jonan yang didampingi oleh Walikota Surabaya, Ibu Tri Risma Harini.

IMG_2785
Parade Bunga dan Budaya Surabaya 2017

Rute parade kali ini bisa dibilang cukup panjang. Start dari Tugu Pahlawan, lalu ke Jalan Kramat Gantung – Tunjungan Plaza – Jalan Guberbur Suryo (Grahadi) – Jalan Panglima Sudirman (Monumen Bambu Runcing) – Jalan Darmo, hingga finish di Taman Bungkul. Jalur sepanjang kurang lebih lima kilometer ini dipenuhi dengan masyarakat yang memenuhi jalan demi menyaksikan Parade Bunga dan Budaya tahun ini. Anggota Satpol PP berupaya keras membendung keramaian para warga agar tidak mengganggu jalannya acara. Namun warga Surabaya masih sangat tertib mematuhi aturan kok, sehingga acara parade dapat berjalan lancar hingga akhir.

Selain masyarakat yang membludak, jumlah peserta yang ikut berpartisipasi dalam parade tahun ini juga melonjak naik, total sekitar 75 peserta. Tidak hanya dari perwakilan Dinas-Dinas Pemerintah Kota Surabaya, peserta juga didominasi dari kalangan usaha dari Surabaya dan Jawa Timur. Ada pula perwakilan masyarakat daerah dan warga asing yang bekerja dan bersekolah di Surabaya.

IMG_2736
Kendaraan Hias

IMG_2815
Kendaraan Hias

Baca selebihnya »

Selain Gunung Bromo, Tempat-Tempat Wisata Ini Juga Keren

Setelah capek meniti tangga sampai ke puncak Bromo dan menyaksikan langsung geraman Kawahnya, sebaiknya jangan langsung pulang dulu. Karena Bromo itu sebenarnya lebih dari sekedar Penanjakan dan Kawah Bromo. Ada banyak sekali tempat yang bisa dikunjungi di daerah wisata ini. Kalau di seputar Gunung Bromo pemandangan akan di dominasi dengan tanah berpasir, pegunungan, dan hilir mudik pria-pria berkuda, kini saatnya mengganti pandangan ke tempat yang lebih segar.

Crater 4
Kawah Bromo

Bromo ternyata punya tempat-tempat dengan landscape yang sangat menakjubkan. Terletak di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Bromo termasuk dalam kawasan empat Kabupaten yaitu Malang, Probolinggo, Lumajang dan Pasuruan. Di tempat ini pula terdapat tiga gunung yang menjadi atraksi utama apabila berkunjung ke Bromo, yaitu Gunung Bromo, Semeru, dan Batok.

Crater 2

IMG_2118

Bromo ternyata juga menyuguhkan lebih dari sekedar wisata pendakian. Setelah turun dari puncak, pastikan untuk menikmati pemandangan hijau di Blok Savana, berdiam dan merasakan sensasi pasir berbisik, atau berkunjung ke desa lokal masyarakat Tengger dimana kalian bisa dijamu dengan keramahan penduduknya.

Baca selebihnya »

6 Alasan Kenapa Harus Naik Jeep Di Bromo

Waktu masih menunjukkan pukul setengah tiga pagi ketika sebuah jeep memasuki lapangan parkir di sebuah penginapan di Cemoro Lawang. Seorang lelaki setengah baya turun dan menghampiri kami yang sudah menunggu sejak tadi. Ternyata dia adalah sopir jeep yang akan menghantar kami berkeliling Bromo hari itu.

Langsung saja aku naik di bangku depan, karena ingin melihat dan merasakan lebih dekat bagaimana menjelajahi medan Bromo dengan sebuah jeep. Ternyata, sebuah jeep di Bromo bukan hanya berarti sebuah kendaraan transportasi yang mengantarkan wisatawan berkeliling, mengendarai jeep di Bromo bisa jadi lebih mengasyikkan dan ternyata lebih banyak petualangan yang bisa kita dapatkan.

Jadi, meski kalian adalah pendaki profesional, kuat jalan sampai puluhan kilometer sehari dalam medan apapun, atau jika kalian adalah seorang budget traveller yang ingin pergi dengan motor demi menghemat biaya, ada lebih banyak alasan kenapa kalian harus menjelajah Bromo dengan jeep.

Jeep 3

1. Medan Yang Sulit Di Malam Hari 

Untuk menuju ke lokasi penanjakan, dimana kamu akan melihat matahari terbit pagi harinya, medan yang ditempuh itu lumayan berat, terdiri dari dataran dan bukit berpasir, dan tidak ada lampu jalan yang bisa menerangi.

“Kan bisa pake lampu mobil/motor?”

Bisa sih, tapi waktu malam itu biasanya terjadi kabut yang menyelimuti area perbukitan pasir itu, jarak pandang hanya beberapa meter. Jadi walau memakai lampu kendaraan masing-masing, pandangan kalian akan otomatis sangat terbatas. Nah, dengan jasa jeep ini sopir-sopirnya sudah berpengalaman di situasi seperti ini, jadi kita tidak perlu khawatir.

2. Anti Tersesat

Dengan memakai jeep, otomatis kita akan mendapatkan sopir yang tahu seluk beluk jalur Bromo. Jadi, tidak perlu lagi khawatir apakah kalian sudah berada di jalan yang benar, karena bapak-bapak ini akan mengantarkan kalian ke tempat penanjakan tepat waktu. Dijamin anti telat melihat matahari terbit. Sewaktu dalam perjalanan ke penanjakan, aku sempat melihat beberapa rombongan motor yang berhenti menepi di jalur lautan pasir. mungkin tersesat ya, mungkin juga kesulitan melihat di tengah kabut.

3. Diantar Sampai Titik Terdekat Pendakian di Penanjakan

Terdapat tiga tempat untuk melihat matahari terbit di Bromo. Penanjakan 1, Penanjakan 2, dan Penanjakan 3. Sesuai namanya, level kesulitan untuk mencapai sampai ke atas juga berjenjang. Dimulai dari Penanjakan 1 yang paling mudah, sampai Penanjakan 3 yang katanya levelnya setara seperti naik gunung betulan. Kalau aku sih penanjakan 2 sudah pernah lima tahun lalu, jadi kunjungan kali ini, berhubung sama cewek-cewek serombongan travel, akhirnya jadilah kami menuju penanjakan 1 yang paling mudah. Walau maksud hati pengennya coba merasakan bagaimana susahnya Penanjakan 3.

Annyyyywaaaayyy, tidak peduli penanjakan berapa yang kalian pilih, dengan jeep kalian akan diantarkan sampai titik terdekat ke tangga pendakian. Jadi kalian nggak perlu jalan jauh-jauh dari area parkir ke pintu masuknya. Apalagi kalau pilihnya Penanjakan 1 yang sebenarnya super gampang, karena tinggal naik beberapa anak tangga saja, sudah tinggal duduk tunggu matahari terbit.

4. Keliling Bromo Sepuasnya

Jeep 1

Kalau ke Bromo, jangan cuma ke Penanjakan, Naik ke Kawah Bromo, trus balik pulang. Ada banyak sekali tempat-tempat anti mainstream yang bisa kalian kunjungi. Selepas dari Penanjakan, bisa mampir dulu ke Bukit Cinta untuk mengagumi lautan kapas yang menyelimuti Gunung Pathok, Bromo dan Semeru. Atau selepas dari Kawah Bromo, arahkan jeep ke Bukit Teletubbies dimana kalian bisa melihat pemandangan dan pegunungan hijau seperti di Switzerland, atau bisa juga ke Pasir Berbisik dan Air Terjun Madakaripura.

5. Jantung Serasa Mau Copot

Naik jeep jantung bisa copot? Yes, absolutely. Pada dasarnya jeep ini dirancang untuk melalui medan-medan berat seperti Bromo yang terdiri dari bukit-bukit pasir. Jadi, siap-siap pegangan pada apapun di dekat tempat duduk kalian kalau jeepnya sudah jalan. Karena selain perbukitan, kalian juga akan melewati seperti parit kecil tempat jalur lava. Yang mana sudah pasti akan menggoncang tubuh dan perut kalian. So, bagi yang memiliki sakit perut lemah, siap-siap bawa kantong kresek ya.

6. Murah 

Jeep 2

Kata siapa naik jeep itu mahal? Tarif jeep di Bromo berkisar antara 500 – 600 ribu sekali sewa, itu harga weekend. Kalau mau harga yang lebih murah, sebaiknya datang sewaktu bukan hari libur, harga pasti akan turun. Atau bisa juga kok di tawar, tergantung kekuatan tawar – menawar kalian sih.

Aku mau datang pas liburan dan aku nggak bisa tawar-menawar, gimana ? Hmm. ada satu lagi cara yang aku tahu, dan ini lumayan efektif. Coba cari sharing trip di lokasi. Biasanya sih ada beberapa orang sesama traveller budget yang menginginkan naik jeep tapi murah, nah kalian bisa tuh gabung sama mereka. Biasanya ada beberapa yang kekurangan penumpang, mereka akan dengan senang hati menampung kalian.

Gimana, ke Bromo lain kali mau naik jeep? 😉

Kalau kalian sudah pernah ke Bromo, silahkan tinggalkan pesan di komentar. Kasih tahu aku bagaimana pendapat kalian tentang tempat wisata itu. Atau bagi yang belum pernah atau sekedar tanya-tanya, silahkan juga tinggalkan komentar. Pembaca yang baik selalu meninggalkan komentar. 😉

Semarang Night Carnival 2017

Datang ke Semarang Night Carnival 2017 adalah keputusan terbaik yang aku buat. Bukan hanya karena festival ini super keren, tapi juga karena ini adalah karnaval pertama yang aku datangi, bukan karnaval antar desa yang mesti ada tiap tahun pas 17 Agustus lho ya, kalau itu sih dari kecil juga udah langganan.

I mean, the big one, the real city carnaval, with the real amazing shows in the street. 

Semarang Night Carnival 2017 adalah agenda tahunan setiap Bulan Mei, dalam rangka menyambut ulang tahun Kota Semarang yang tahun ini berusia 470 tahun. Tahun ini acaranya jatuh pada hari Sabtu tanggal 6 Mei 2017. Merupakan salah satu agenda yang selalu ditunggu tiap tahunnya, dan hampir menyedot perhatian berbagai turis dari berbagai daerah.

ups
Panggung utama yang kece sekali.

up
Pintu Masuk SNC 2017

Semarang Night Carnival ini dilangsungkan pada malam hari. Inilah yang menjadi pembeda dari karnaval di tempat lain, karena dalam acara ini seluruh kostum peserta menggunakan lampion. Jadi, bisa dibayangkan kan, bagaimana indahnya kerlap-kerlip lampu yang berpadu dengan megahnya kostum para peserta.

Tahun ini start SNC 2017 bertempat di Titik Nol Kilometer, Semarang. Diikuti oleh kurang lebih 400 peserta SMP, SMA dan perguruan tinggi kota Semarang. Tak hanya itu, sebanyak 60 mahasiswa asing dan penari dari berbagai negara seperti Thailand, Taiwan, Sri Lanka, dan Korea Selatan juga turut memeriahkan pagelaran SNC 2017. Para peserta akan menempuh rute sepanjang 1,3 km yang diklaim sebagai rute terpanjang dari sejarah pageralan SNC sebelumnya. Dimulai dari Titik Nol Kilometer atau depan kantor pos Besar Johar, kemudian menyusuri sepanjang Jalan Pemuda dan berakhir di Lawang Sewu.

Tema dari Semarang Night Carnival tahun ini adalah Paras Semarang, menampilkan berbagai ikon Kota Semarang. Terbagi dalam empat defile yang terdiri dari defile Burung Blekok, Defile Bunga Sepatu, Defile Kuliner Semarang, serta Defile Lampion. Hmm, udah sampai disini nggak perlu bingung cari di kamus apa arti kata defile. Awalnya aku juga nggak paham, aku pikir defile itu sejenis anaknya devil. Maklum Unas Bahasa Indonesia dulu dapet jelek. Hi hi hi hi… Aku kasih tahu aja ya, Defile artinya perarakan barisan.

Sebenarnya sih, acara baru dimulai pukul 19.00 WIB, namun kemeriahan SNC 2017 sudah dimulai sejak pukul empat sore. Ternyata pihak official juga mengijinkan kita melihat proses persiapan para peserta. Di tempat parkir samping Balai Kota menjadi tempat para peserta bersiap-siap dengan kostum megahnya. Jadi, kita bisa juga foto-foto disini, hitung-hitung curi start lah, sebelum karnaval sesungguhnya dimulai. Para pesertanya juga ramah sekali melayani permintaan foto. Salut banget deh, buat mereka yang memakai kostum beratnya belasan kilo dan masih bisa senyum dengan cantiknya di depan kamera kita.

Kuliner 1
Belum mulai tapi udah senyum cantik banget.

Lampion 1
Persiapan sebelum SNC 2017

Blekok 1
Persiapan sebelum SNC 2017

Blekok 2
Persiapan sebelum SNC 2017

Yang bikin takjub adalah selain karena kostumnya yang berat, setiap peserta di masing-masing defile hampir pasti selalu menggunakan sayap yang indah nan megah. If you think the legendary Victoria’s Secret wings is fantastic, yet magically beautiful, Well, wait till you see this. Compare to this, their wings are like a joke. 
Baca selebihnya »